Indonesia Menuju Panggung Dunia

Surabaya, (Newsroom-id) – Sebagai milenial yang hidup di negara berkembang dengan potensi alam melimpah dan kekayaan sumber daya yang besar, saya kerap bertanya dalam hati. “Mengapa Indonesia masih enggan untuk naik level menjadi negara maju?”

Pertanyaan ini mungkin dianggap sebagai retorika semata, karena pada hakikatnya Indonesia memang masih jauh dari kondisi yang bisa dikatakan “maju” sebagai sebuah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang fantastis, minimal di kawasan Asia Pasifik.

Saat ini dunia dalam kondisi ketimpangan, dalam hal perekonomian, kesehatan dan keamanan. Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan sendi-sendi vital hampir di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Negara Super powerpun sempat dibuat gamang atas kondisi global ini, apalagi negara sekelas Indonesia. Namun dengan kejelian dan kemampuan dalam memanfaatkan peluang di tengah ketidakpastian, Indonesia seharusnya mampu untuk memposisikan diri sebagai negara yang harus diperhitungkan.

Tentunya setiap keputusan pasti dibarengi dengan risiko, pro kontra dan bisa saja menimbulkan kekecewaan bagi pihak yang merasa tidak diuntungkan.

Benar saja, saat ini keputusan yang diambil pemerintah memunculkan reaksi dari golongan yang merasa tidak diuntungkan. Badai protes muncul secara serempak dan terkesan diorganisir.

Dari kondisi ini, maka timbulah pertanyaan.

Kenapa demo? Karena rakyat tidak percaya dengan pemerintah.

Kenapa tidak percaya? Karena rakyat tak tahu apa yang sedang dikerjakan pemerintah.

Mengapa rakyat tak tahu apa yang sedang dikerjakan pemerintah?

Hmmm… Untuk menjabarkan saya akan menyampaikan kalimat yang sering diucapkan oleh para susksesor bisnis.

“Jangan pernah mempublish idemu, progresmu dan strategimu, cukup tunjukkan saja pencapaian kamu.”

Itulah yang saat ini mungkin sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Semoga opini yang saya jabarkan dalam artikel dengan bahasa yang sederhana ini bisa dipahami oleh semua pembaca, khususnya para milenial yang kritis, inovatis, kreatif namun tidak anarkis.

NIKEL DAN MOBIL LISTRIK
Apakah kita tahu apa yang diam-diam dikerjakan oleh Pak Jokowi?

Saat Arab Saudi baru tersadar bahwa minyak akan habis, sehingga Putra Mahkotanya diperintah untuk diplomasi kemana-mana membangun investasi di negara lain. Pemerintah kita sadar bahwa masa depan dunia ini bukan lagi pada Minyak Bumi, tapi Nikel.

China sudah memiliki teknologi dan secara masive memproduksi Mobil Listrik. Uni Eropa tak mau kalah, mereka telah lebih dulu memproduksi Mobil Listrik dan memperkenalkan ke ujung dunia. Namun mendadak Uni Eropa marah! Karena Jokowi melalui PERMEN No 11 tahun 2019 melakukan stop ekspor bahan mentah Bijih Nikel ke Eropa. Uni Eropa menggugat Jokowi ke WTO karena larangan ekspor ini. Namun dengan tegas Presiden kebanggaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jokowi menjawab “Indonesia tidak lagi ekspor bijih Nikel, Indonesia akan membangun sendiri pabrik baterai untuk bahan bakar mobil listrik”. ucapnya.

Apakah kita tahu cerita ini? Tentunya tidak kan?

Apakah Jokowi cuma membual?
Tidak!

PT Vale Indonesia adalah Perusahaan Pertama yang melaksanakan Kontrak Karya di tahun 2014, dimana perusahaan tambang yang 58% sahamnya adalah milik perusahaan yang ditunjuk oleh Pemerintah.

Artinya apa? Perusahaan Nikel terbesar ini dikelola oleh bangsa sendiri. Masih banyak lagi perusahaan Nikel lain yang berkonsep Kontrak Karya tersebar di Sulawesi. Dan pembangunan perusahaan Nikel ini masive di periode pertama pemerintahan Jokowi. Apa kita tahu?

Dahulu Indonesia selalu mengekspor Bijih Nikel Mentah ke Uni Eropa, dan Eropa sangat senang karena bisa membeli bahan baku baterai dengan sangat murah dari Indonesia. Apa gunanya Eropa mampu memproduksi Mobil Listrik jika tidak punya bahan baterainya? Gigi ompong!

Nah sekarang bayangkan juga konglomerat yang sudah makan enak hasil ekspor Nikel ke Eropa? Gigit jari saudara… karena sudah dilarang sama Jokowi. Apakah mereka diam? Pastinya tidak dan sudah pasti melawan dengan berbagai cara!

Kini Jokowi menghentikan tabiat buruk itu! Jokowi membangun perusahaan Nikel dari hulu ke hilir sehingga kita tidak akan menjual Nikel dalam bentuk bahan mentah yang murah, tapi dalam bentuk baterai yang mahal.

Disatu sisi kita mendapat keuntungan yang melimpah, disisi lain Eropa akan sangat bergantung pada kita, hehehe.

Apa ini jalan mulus? Kita orang awam melihatnya mulus dan lancar. Tapi apa kita paham perlawanan besar dunia sedang menghantam Jokowi saat ini?

Even presiden yang banyak dikatakan oleh golongan sakit hati bilang “plonga plongo” itu, dibalik layar sedang perang melawan Uni Eropa. Apa kita gak sadar? Seberapa kuat Jokowi mampu memenangkan perang ini? Wong didalam negeri aja anda kerjaannya cuma dema-demo! (Sesuai dengan yang saya lihat di lapangan)

Jokowi kemudian membangun perusahaan Baterai Electroc Vehicle (EV) yang sekalipun banyak diprakarsai perusahaan China. Namun tetap prinsipnya adalah Kontrak Karya. Kenapa China? China adalah negara dunia ketiga yang hari ini juga gencar memproduksi Mobil Listrik selain Uni Eropa, bahkan melewati prestasi Amerika.

Uni Eropa hanya ingin membeli bahan baku Nikel dari kita, dan enggan melakukan kerjasama. China sadar bahwa mereka memiliki teknologi dan SDM Ahli, tapi tidak memiliki bahan baku baterai.

Sementara Indonesia memiliki bahan baku tapi tidak dengan teknologi. Mutualisme ini melahirkan investasi yang saling menguntungkan.

Inilah asal muasal publik heboh tentang TKA China.

Banyak golongan sakit hati menolak karena belum tahu latar belakang ceritanya bukan? Jika bukan China, masa depan cerah Indonesia akan terlewatkan, Arab Saudi sudah diundang tapi tidak mau invest karena jelas Arab Saudi tidak punya teknologi itu.

China tidak merampas kesempatan pekerja, karena dalam perjanjiannya China hanya akan mendatangkan tenaga terkait mesin dan alat produksi yang berkaitan dengan teknologi mereka. Ibarat anda beli AC, apa iya anak anda sendiri yang anda suruh pasang blowernya? Pasti anda akan bawa sekalian teknisi dari toko untuk memasang instalasinya ke rumah bukan?

Begitu juga soal TKA China yang di Sulawesi, mereka bertugas mengaplikasikan instalasi alat-alat dari perusahaan China ke Indonesia untuk mendirikan pabrik Nikel sampai pada produksi baterainya.

Apa wajah masa depan Indonesia? Minyak Bumi akan habis, coba kita baca gerak gerik Arab Saudi yang sudah kebingungan nanam investasi kemana-mana? Mereka sadar bahwa minyak bumi mau habis!

Eropa terutama Jerman dan juga Jepang, sedang banting setir dari otomotif emisi menuju otomotif listrik, tapi mereka tidak punya baterainya. Hanya Indonesia yang punya bahan baku, lahan, sdm, dan pasar.

Nah gimana untuk memperlancar itu semua?
Indonesia harus siap insfratruktur karena bentuk geografis kita adalah pulau dengan jangkauan yang sangat luas.

Lalu regulasi, Omnibus Law yang hingga saat ini menjadi pro kontra dan dijadikan alasan para golongan barisan sakit hati sebagai pembenaran untuk penghancuran mindset masyarakat dan perusakan fasilitas publik, adalah senjata jitu untuk memuluskan transisi berpindahnya banyak sekali perusahaan asing ke negeri ini.

Lantas apa gak takut nanti negara kita dijajah bangsa asing?

Jangan samakan era sekarang dengan masa “Enak Jamanku to?” (rezim Soeharto) kawan!

Sekarang kita sudah memiliki UU Kontrak Karya, apapun bentuk usaha asing yang masuk ke Negeri kita, minimal 51% sahamnya harus milik perusahaan yang ditunjuk oleh Pemerintah. Kalau kita sudah menguasai 51% saham maka kita adalah pengelola aktif, saham yang lain itu hanya menyokong dana dan saran.

Apa Jokowi bisa menjamin pelaksanaan UU tersebut? Buktinya sudah nyata yaitu Freeport!

Dahulu kita cuma menikmati 9% keuntungan, sekarang kita sudah memiliki 51% keuntungan Freeport. Apa mereka yang demo sampai berjilid-jilid tahu perjuangan Jokowi untuk merebut 51% itu? Ya sudah pasti enggak lah, wong kerjaannya cuma mainan hoaks dan demo kemana-mana kok! Hehe.

Pada 2030 sudah ditargetkan seluruh armada Trans Jakarta adalah Bus Listrik, dan setelah pabrik baterai, plan berikutnya adalah pabrik Mobil Listrik.

Apakah Indonesia sudah memulai pembangunan?

Kalau tidak percaya silahkan googling Mobil Listrik Indonesia. Kalau masih belum percaya lagi? Lihat Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Belum percaya lagi? Lihat produk-produk kebijakan apalagi yang sudah dilandaskan pada Perpres tersebut!

Apa gak mungkin kita akan menjuarai otomotif dunia? Orang bahan bakunya kita yang punya? Apa gak mungkin kita akan semakmur Arab Saudi di masa mendatang? Jokowi tinggal 4 tahun menjabat kawan! Itupun masih direcoki dengan isu-isu hoaks!

Nikel dan Baterai EV serta Mobil Listrik adalah masa depan Indonesia!
Fikirkan dan resapi!
Hai para generasi milenial… Jangan hanya percaya saja, carilah informasinya dan bentuklah prinsip kewarganegaraan!
Bangga atau tidak, kita adalah Indonesia.

Penulis : Timothy

Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber dan penambahan opini

#MilenialCerdas
#RevolusiMental
#DukungOmnibusLaw
#IndonesiaMaju‎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *