Ketupat, Tradisi Masakan yang Penuh Filosofi Religi.

Surabaya, (Newsroom-id) – Bagi umat muslim, Idul Fitri merupakan momentum suci, maka tak ayal perayaan Idul Fitri di Indonesia begitu semarak. Sebagai informasi nih newsreaders, di pulau Jawa terlebih di Surabaya, dalam menandai berakhirnya bulan Ramadhan dan memasuki 1 Syawal, masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah Lebaran atau Riyoyo.

Kalian tahu ngga? Kalau di Jawa lebaran dirayakan dua kali. Yakni lebaran Idul Fitri (1 Syawal) dan Lebaran Ketupat (8 Syawal) seminggu setelah Idul Fitri. Bahkan dibeberapa wilayah di Pulau Jawa, lebaran ketupat sudah menjadi semacam tradisi turun-temuran dan dirayakan lebih ramai daripada Idul Fitri.

Menurut kalian nih newsreaders, kenapa Lebaran Ketupat bisa lebih ramai daripada Idul Fitri???

Hmm… Hal ini tentunya tak lepas dari tuntunan agama Islam, dimana Nabi Muhammad SAW menganjurkan bagi umat Islam agar menyempurnakan puasa Ramadhan dengan puasa sunah 6 hari dimulai setelah 1 Syawal, karena pahalanya bisa menghapus dosa seseorang untuk 1 tahun kedepan. Wahhh… Bisa buat nebus dosa-dosa selama hidup nih hehe…

Jadi di daerah yang mentradisikan Lebaran Ketupat biasanya, setelah Idul Fitri warganya tetap berpuasa sunat selama 6 hari. Lalu ketika masuk 8 Syawal itulah mereka baru berlebaran sebagaimana layaknya masyarakat muslim lainnya.

Yuk menilik dari sejarahnya! Jadi sebagian riwayat menuturkan bahwa Lebaran Ketupat di Jawa awalnya diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga atau juga yang dikenal sebagai Raden Said, ketika beliau memperkenalkan istilah ba’da (setelah) kepada masyarakat Jawa.

Ba’da yang dimaksud Sunan Kalijaga adalah ba’da Lebaran dan ba’da Kupat. Ba’da Lebaran dipahami dengan prosesi Shalat Idul Fitri 1 Syawal, lalu dilanjutkan dengan tradisi silaturrahim saling berkunjung dan memaafkan kepada sesama muslim.

Sedangkan ba’da Kupat dimulai setelah seminggu Lebaran Idul Fitri. Sebagai penanda, masyarakat muslim Jawa biasanya membuat ketupat, yakni sejenis makanan yang dibuat dari beras dimasukkan dalam anyaman daun kelapa muda (Janur) berbentuk kantong persegi empat, kemudian dimasak.

Setelah ketupat masak dan diberi lauk pauk ikan, telor dan daging serta diberi kuah bersantan, masyarakat kemudian membagi-bagikan kepada tetangga, kerabat keluarga terdekat serta orang yang lebih tua sebagai perlambang kasih sayang dan mempererat tali silaturrahim.

Berbicara mengenai ketupat, kalian tahu ngga kalo ketupat itu ternyata bukan hanya sekedar makanan. Terdapat filosofi yang terkandung di dalamnya.

For your information (FYI) nih newsreaders, dalam tradisi Jawa, sebuah nama pasti mengandung arti yang dalam. Termasuk kata Ketupat atau Kupat, dimana merupakan singkatan dari Ngaku Lepat (Mengakui Kesalahan) dan Laku Papat (Empat Tindakan).

Prosesi Ngaku Lepat diimplemantasikan dengan tradisi sungkeman, yakni digambarkan seorang anak bersimpuh memohon maaf dihadapan orang tuanya. Dari tradisi ini diajarkan agar menghormati orang yang lebih tua dan memohon maaf serta meminta bimbingan serta ridhonya. Karena orang tua dianggap lebih berpengalaman dalam menjalani kehidupan. Begitupun sebaliknya nih newsreaders, yang tua akan mengasihi dan membimbing yang lebih muda. Equal kan jadinya, hehe…

Simbol dari tradisi sungkeman atau meminta maaf, berupa ketupat. Oleh sebab itu saat kita berkunjung ke rumah kerabat pada momen lebaran ketupat, maka akan diberi suguhan ketupat dan diminta untuk dicicipi atau dimakan. Uniknya nih, apabila ketupat dimakan maka secara otomatis diyakini pintu maaf telah dibuka dan segala kesalahan serta kekhilafan yang pernah terjadi antar keduanya akan terhapus. Mulai dari nol yah…

Kemudian untuk Laku Papat, Sunan Kalijogo menggunakan empat kata atau istilah, yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.

Lebaran berarti akhir atau usainya waktu bulan puasa ramadhan dan bersiap menyongsong hari kemenangan Idul Fitri (kembali suci).

Luberan bermakna melebur atau melimpah seperti air yang tumpah karena sudah terisi penuh. Pesan moral Luberan ini newsreaders, membudayakan mau berbagi kepada orang yang tidak mampu serta membayar zakat karena itu hak orang miskin dan harus diberikan agar harta kita juga menjadi suci.

Sedangkan Leburan bermakna habis atau menyatu. Artinya momen lebaran itu untuk melebur dosa terhadap satu dengan yang lain dengan cara meminta maaf dan memberi maaf, sehingga dosa kita dengan sesama bisa nol kembali.

The last yakni, Laburan dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat pewarna berwarna putih yang bisa digunakan untuk menjernihkan benda cair.

Dari Laburan ini bisa dipahami bahwa hari seorang muslim harus bisa kembali jernih nan putih layaknya kapur yang menjadi simbol agar manusia bisa menjaga kesucian lahir dan batinnya.

Ternyata dalam juga yah filosofi dari ketupat newsreaders, tak hanya sebagai makanan atau simbol saja. Lalu kalian tahu ngga bagaimana cara mengolah ketupat? Kalau kalian belum tahu, Newsroom-id.com akan membahasnya sekaligus.

Sebagi informasi lagi nih, bahan pembuatan Ketupat Lepet juga memiliki makna filosofi tersendiri loh. Misalnya, kenapa harus dibungkus dengan janur? Janur, diambil dari bahasa Arab “Ja’a Nur” (telah datang cahaya).

Bentuk flsik kupat yang segi empat ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja’a nur).

Lepet dari kata silep kang rapet. Monggo dipun silep ingkang rapet (mari kita kubur/tutup yang rapat). Jadi setelah mengakui kesalahan (lepat), kemudian meminta maaf, maka kesalahan yang sudah dimaafkan itu jangan pernah diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Jika telaah secara mandalam, betapa besar peran para wali dalam memperkenalkan agama Islam dengan santun. Karena itu umat Islam di Nusantara khususnya Jawa sudah seharusnya memuliakan budaya atau ajaran yang telah disampaikan para wali di nusantara ini.

Karena inilah cikal bakal munculnya kalimat Mohon maaf lahir dan bathin, ngaturaken sedoyo kelepatan disaat ‘ldul Fitri di Indonesia dan Pulau Jawa pada khususnya. (Lie_)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *