Pendeta Cabul Surabaya (HL) Dijatuhi Hukuman 10 Tahun.

(Newsroom-id) – SURABAYA, Kasus Pelecehan yang melibatkan Pendeta HL memasuki babak akhir. Pendeta Happy Family Center (HFC) dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Terdakwa kasus pencabulan terhadap korban IW ini dinyatakan terbukti melanggar Pasal 82 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam amar putusan majelis hakim yang diketahui, hakim Johanis Hehamony bahwa Hanny Layantara sejak tahun 2008 hingga tahun 2011 diduga telah melakukan perbuatan cabul kepada anak dari seorang pengusaha di Surabaya.

Kasus ini bermula dari korban berinisial IW dititipkan di gereja HFC Surabaya. Intensitas pencabulan yang dilakukan pendeta Hanny Layantara makin sering, setelah aksi pencabulan pertama di lantai 4 ruang kerja Hanny, di Gereja HFC Jalan Embong Sawo Surabaya.

Namun, mulai tahun 2009-2011, intensitas perbuatan cabul Hanny Layantara mulai berangsur berkurang. Dikarenakan, terdakwa telah mengangkat anak perempuan selain IW.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Pendeta Hanny Layantara terbutki secara sah dah meyakinkan melakukan tindak pidana perbuatan pencabulan berlanjut sebagai mana dakwaan Jaksa. Menjatuhkan pidanan penjara selama 10 tahun,” kata hakim Yohanis Hehamony dalam persidangan secara Online.

Vonis majelis hakim ini, sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania Paembonan yang menuntut terdakwa 10 tahun penjara. Vonis Majelis Hakim itu, juga mempertimbangkan faktor-faktor yang meringankan dan memberatkan.

Faktor yang meringankan antara lain terdakwa belum pernah dihukum. Faktor yang memberatkan, terdakwa berbelit-belit memberikan keterangan. Terdakwa adalah seorang pendeta dan tokoh keagamaan, yang seharusnya menjaga moral dan menjadi contoh masyarakat, namun ternyata malah melakukan pencabulan.

Atas putusan tersebut, penasehat hukum terdakwa, yakni Abdurrahman Saleh mengatakan tidak sependapat dan pihaknya melakukan perlawanan dengan upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi Jatim.

“Kami menghormati putusan tersebut. Tapi kami tidak sependapat dengan putusan. Sebab, pertimbangan putusan lebih mengedepankan keterangan saksi korban. Sementara keterangan terdakwa diabaikan. Maka, kami menyatakan banding,” kata Abdurrahman Saleh.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, pihaknya keberatan dengan putusan majelis hakim dan langsung menyatakan banding.

”Kami langsung melakukan banding. Kami tidak sependapat dengan putusan hakim,” ujar Abdurrachman Saleh usai sidang vonis.

Eden Bethania Thenu selaku juru bicara dari pihak korban mengatakan pihaknya cukup puas, tapi pihaknya juga mengatakan hukuman 10 tahun tersebut belum bisa membayar rasa trauma korban. “Jadi hukuman 10 tahun ini, ya kami berterima kasih hakim sudah mengedepankan hak-hak anak,”terangnya.

Sementara itu secara terpisah, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, mengapresiasi kinerja jaksa dan hakim karena pertimbangan-pertimbangannya hukumnya. “Jadi unsur-unsur hukumnya memenuhi pasal Pasal 82 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,katanya didepan para jurnalis.

Arist juga mengatakan dengan putusan tersebut, pihaknya berpesan agar ini menjadi pelajaran bagi lembaga atau institusi jangan sampai ada kasus tindak pidana terhadap anak. “Jadi lembaga-lembaga keagamaan harus steril dari kasus-kasu seperti ini (pencabulan),”imbuhnya. (KNZ/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *